news Details

MENYIKAPI DIABETES PADA USIA LANJUT

Oleh dr. Tania Tedjo Minuljo, Sp.PD dari RSUP Dr. Kariadi

 

Diabetes mellitus (DM) mungkin menjadi salah satu istilah penyakit yang paling populer di kalangan masyarakat awam, bukan saja karena banyaknya kasus tetapi juga karena dampak dari penyakit tersebut sulit diatasi sehingga menjadi momok dalam masyarakat. Jumlah penderita DM di Indonesia saat ini diperkirakan hampir 10% dari seluruh populasi penduduk Indonesia usia dewasa. Hal ini menempatkan Indonesia pada posisi 7 besar negara dengan jumlah penderita DM terbanyak di dunia.

Satu hal yang patut disayangkan adalah meskipun masyarakat cukup mengenal apa itu penyakit DM namun kesadaran untuk melakukan pencegahan dan deteksi dini masih rendah. Sebagian besar masyarakat datang mencari dokter bilamana sudah terjadi komplikasi jangka panjang baik itu pada pembuluh darah kecil (mikrovaskuler) misalnya kaki kesemutan, penglihatan kabur, dan gagal ginjal; atau pembuluh darah besar (makrovaskuler) misalnya stroke, serangan jantung, dan borok kaki.

Masyarakat pada umumnya belum memahami bahwa bila seorang pasien datang sudah dengan komplikasi jangka panjang maka kondisi tersebut tidak bisa ditarik mundur; tidak bisa dikoreksi kembali normal, satu-satunya yang bisa dilakukan adalah mencegah perburukan. Hal ini tentu akan mengubah kualitas hidup dan produktifitas pasien secara permanen, dan lebih luas lagi dampaknya akan terasa pada keluarga, masyarakat, dan negara.

Saat ini angka harapan hidup masyarakat Indonesia meningkat karena perbaikan kesejahteraan dan perluasan cakupan layanan kesehatan. Tingginya angka harapan hidup tentu akan diikuti dengan naiknya populasi masyarakat lanjut usia (lansia). Pergeseran demografi ini harus disikapi dengan strategi layanan kesehatan yang berbeda. Kita tentu berharap bahwa lansia yang ada dalam masyarakat adalah lansia yang sehat, mandiri dan produktif.

DM secara sederhana dapat dipahami sebagai kondisi kadar gula darah yang tinggi terus menerus karena tubuh tidak mampu mengolahnya. Mengolah gula dalam darah agar menjadi energi memerlukan hormon yang disebut insulin. Hormon insulin yang dihasilkan orang normal jumlahnya cukup dan fungsinya baik, sementara pada pasien DM jumlah dan fungsi hormon insulinnya menurun. Penyebab gangguan jumlah dan fungsi insulin ini adalah kombinasi faktor genetic/keturunan dan faktor pola makan yang tidak sehat.

 

Seseorang yang sudah didiagnosis DM maka harus menerapkan 5 pilar pengelolaan, yaitu: a. minta edukasi dari ahlinya, b. perencanaan makan, c. optimalisasi aktivitas fisik, d. obat dari dokter, dan e. evaluasi rutin. Semua pilar tersebut dijalankan serempak, tidak bisa hanya dipilih salah satu saja.

Ada populasi DM lansia yang memiliki beberapa kekhususan sehingga dalam pengelolaannya perlu dibedakan dengan pasien DM yang lain:

  1. Gigi tanggal, rangsang haus menurun, saraf pengecap atrofi sehingga umumnya nafsu makan sudah menurun. Pasien DM lansia umumnya jangan disuruh diet berlebihan namun cukup diupayakan makan seimbang dengan jadwal
  2. Demensia, kewaspadaan Sangat dianjurkan ada dukungan dan pendampingan dari keluarga dalam hal pemilihan menu dan konsumsi obat.
  3. Kemampuan organ menurun, metabolisme dan ekskresi obat melambat. Upayakan tidak banyak obat (polifarmasi), pilih yang penting dan perlu saja sehingga terhindar dari efek interaksi obat.

 

Hal berikut adalah panduan umum dalam menyikapi DM pada usia lanjut:

  • Lansia yang sehat diperlakukan sebagaimana layaknya pasien DM lainnya
  • Lansia yang rentan (tidak bugar) diberikan target glukosa longgar (HbA1c<8,5%)
  • Lansia dengan gangguan daya pikir (kognisi) diberikan target glukosa longgar
  • Lansia bila mampu tetap diupayakan melakukan latihan aerobik dan resistan
  • Obat golongan sulfonilurea seperti Glibenklamid, Glimepiride, Gliklazid, Glikuidon diberikan dengan dosis separuh dan dinaikkan bertahap untuk mencegah hipoglikemia
  • Glimepiride dan Gliklazid lebih dipilih dibandingkan Glibenklamid karena risiko hipoglikemia lebih rendah
  • Glinid dipilih jika pola makan pasien tidak teratur, karena masa kerja obat sangat singkat sehingga risiko hipoglikemia rendah
  • Obat golongan Tiazolidindion (misal: Pioglitazone) meningkatkan risiko patah tulang dan gagal jantung
  • Insulin basal analog (misal: Glargine dan Detemir) lebih dipilih dibandingkan insulin human (misal: Humulin N) karena lebih fisiologis
  • Insulin premixed (misal: Humalog Mix) lebih dipilih dibandingkan basal bolus karena jumlah penyuntikan lebih sedikit
  • Pasien lansia yang akan mendapat terapi insulin dilakukan “uji menggambar arah jarum jam (clock drawing test)” terlebih dahulu untuk menilai apakah akan mengalami kesulitan atau tidak saat menggunakan insulin
  • Diet yang teratur lebih diutamakan dibanding diet diabetes

 

Banyak hambatan yang membuat DM khususnya pada lansia sulit dikendalikan (clinical inertia) selain faktor rumitnya penyakit DM itu sendiri. Hambatan muncul dari 3 sisi, yaitu: 1. sisi pasien (misal: merasa tidak ada keluhan maka tidak periksa, merasa aneh bila ke dokter hanya untuk skrining, takut berobat, kesulitan biaya dan transportasi, tidak ada keluarga yang mengantar, yakin dan percaya pada mitos kesehatan di media sosial, gangguan panca indera); 2. sisi petugas pemberi layanan kesehatan (misal: dokter kurang jelas dalam edukasi, dokter kurang koordinasi dengan petugas kesehatan yang lain, perawat tidak telaten); dan 3. sisi fasilitas maupun kebijakan layanan kesehatan (misal: pemeriksaan laborat tidak bisa dikerjakan, jenis obat terbatas, suasana poliklinik tidak ramah lansia, antrian panjang, prosedur rujukan rumit). Pencegahan dan penanggulangan dampak DM pada lansia tidak bisa dikerjakan sendiri tetapi harus sinergis melibatkan banyak pihak mulai dari pasien sendiri, keluarga pasien, dokter dan tim medis lain, serta pemerintah sebagai pengatur kebijakan layanan kesehatan.

Share:

Tags:

Beri Komentar